Mengambil hikmah dari setiap langkah kehidupan baik manis ataupun pahit, membuat kita semakin lapang hari
Sabtu, 26 Desember 2015
Hakikatnya kita adalah sama
Alhamdulillah Sabtu siang, 28 Novemer 2015, matahari bersinar menunjukan eksistensinya. Tapi tak kalah, suhu 6 derajat selcius itu menembus 4 lapisan pakaian yang menempel di tubuhku. Dingin!!! Serasa berada di dalam kulkas.
Alhamdulillah siang tadi Allah memberikan vitamin D secara gratis untuk Gent-Belgia setelah sekian hari cahaya yg dirindukan setiap insan itu tak kunjung datang. Karena selama ini kami mengkonsumsi vitamin D yang kami beli di apotek. Matahari kurang bersinar di kala menjelang winter ini.
Tak kalah dari itu semua, hari ini hatiku seakan benar-benar mendapatkan kehangatan bahkan kesejukan luar biasa. Kehangatan senyuman dan pertolongan dari seorang kakek yang sudah berambut putih semua yang kutemui di jalan tadi. Kesejukan dari tutur katanya yang tidak pernah aku duga sebelumnya.
Yah, kakek yang perkasa itu 3x menolongku mengangkat stroller/buggy turun naik tram dan bus. Mengajak anak-anakku ngobrol dan becanda. Dan ternyata tujuan kami sama, yaitu drongensesteenweg.
"3 kali saya mengangkat buggy ini. Dan ternyata kita turun dan naik bersama", ujar kakek itu selepas kami turun dari bus yang kami tumpangi.
Tak lupa ku ucapan terima kasih kepada beliau yang sudah menolongku dan membuat anak-anak ceria.
"Ben je muslimah? Apakah kamu seorang muslimah?", tanyanya dengan bahasa Belanda dengan logat yang tak ku kenal.
"Insyaallah", jawabku
"Uit welke land kom je? Marokaans? Apakah kamu berasal dari Maroko?", tebaknya.
"Née, ik ben Indonesie", langsung ku luruskan tebak berhadiahnya itu.
Karena kakek itu memberanikan diri bertanya tentang keyakinanku, saya balik bertanya,
"Muslim?" tanyaku singkat.
Saya tahu bahwa bertanya tentang keyakinan atau agama adalah sangat sensitif di Belgia ini. Dan sebaiknya tak perlu ditanyakan. Tapi apa boleh buat, kakek tadi memulainya, maka mengapa tidak kalau aku juga balik bertanya tentang agamanya. Aku kira tidak ada salahnya, mungkin dia juga Muslim sama sepertiku.
Tidak susah dia untuk menebak keyakinanku apa. Karena terang saja jilbab yang aku kenakanan adalah sebagai penanda bahwa aku adalah seorang Muslimah. Oh tidak, tidak, tidak. Tidak semua wanita yang berjilbab itu adalah muslim. Ada beberapa agama yang juga mempunyai aturan yang sama masalah ini. Kristen Ortodok, misalnya. (Saya pernah dijelaskan oleh teman saya yang beragama itu).
Yang membuat aku kaget adalah tebakanku salah, tapi ya kurang tahu juga ya, apakah salah atau tidaknya. Yang jelas beliau tidak menjawab pertanyaanku dan menggelengkan kepala sambil tersenyum serta berkata, "HAKIKATNYA KITA ADALAH SAMA, dan KEBAIKAN ITU DATANG DARI HATI", tangan kanan keriputnya itu sambil menepuk dada kirinya.
Beliau pun pamit dan berbalik badan, "oia, saya dari Warsawa, sampai ketemu ".
Saya berbalik badan sambil terus mengingat kata-katanya itu. Iya, kita adalah makhluk Tuhan, dan kita semua adalah sama.
Tapi... Saya juga sambil berfikir, negara mana itu Warsawa...??? (Secara... Geography ku jelek xixixi :-S)
Tuhan, lindungi kakek itu. Berkahi umurnya. Amin.
Kalau Cak Nun bilang kurang lebih begini,
"kita tidak tahu apakah kita muslim atau bukan, hanya Allah yang tahu. Jangan-jangan kita hanya mengaku Muslim saja, padahal hakikatnya kita belum beriman.
KITA SEMUA ADALAH SAMA...
KITA SEMUA ADALAH SAMA...
KITA SEMUA ADALAH SAMA...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar