Saya mengenal dunia hijab sejak masih awal-awal hijab belum begitu populer di Indonesia. Mmmhhh... sekitar tahun 1994 saya sudah mengenakannya. Saat itu saya duduk di kelas 6 SD.
Saat itu saya mengenal hijab adalah dengan istilah jilbab atau kerudung. Soalnya yang saya tahu, kalau hijab adalah kain penutup atau pemisah ruang antara laki-laki dan perempuan di masjid-masjid itu loh...yang biasanya warna hijau. Alamaaaaak... Hehehe.
Saat itu saya dipaksa pake tuh kerudung, karena saya sudah haid, alias sudah baligh dan sudah mempunyai kewajiban menutup aurat. Begitulah keyakinan keluarga kami.
Kira-kira saya suka? Aduh gimana ya bilangnya... Hehehe...Secara, anak masih ingusan dan juga lingkungan pada tahun segitu ga dukung banget.
Tapi saya ikuti kemauan orang tua, yaitu belajar bertahap pake kerudung. Diawali dengan kalo pulang sekolah pake kerudung, sampai akhirnya bertahap kesekolah pakai kerudung. Aduuuh jarang banget zaman tahun segitu yang pakai kerudung.
Saya sebetulnya pengin protes, tapi ga berani... Hehehe. Yo wis, jalani aja. Ditengah perjalanan karena merasa bukan dari dalam hati, dan juga merasa ribet ketika main loncat-loncat sama teman-teman harus pake rok panjang dan kerudung, juga teman-teman ga ada yang pakai jilbab. Akhirnya kerudungpun dilepas... :-( Tapi anehnya mama (panggilan untuk bapak ala Cirebon berasal dari kata "Rama") ga marah.
Saya kembali memakai baju ala anak-anak biasanya.
Ditengah perjalanan, sahabat saya, umi habibah, dia malah terinspirasi saya dan dia sejak saat itu memakai kerudung. Eh malah saya melepasnya.
Nah, dari situlah saya merasa ga nyaman, kayanya maluuu kalau pakai baju pendek. Cuma semingguan kurang lebih saya lepas kerudung itu. Ahirnya kerudungpun kupakai kembali, sampai sekarang.
Tapi, saya merasa ketika tinggal di Belgia menjadi semakin konsisten. Sebelumnya kadang masih ada maklum. Contoh, kalo mau nyapu, ngepel, atau nyiram tanaman diluar rumah masih cuek, asal ga keluar pagar rumah, yaaa...kadang masih memaklumi diri... Ah dasar nih...
Oia, saya punya cerita menarik ketika SMA.
Saat itu di SMA yang memakai jilbab hanya masih dihitung jari. Saya salah satunya.
Waktu itu pelajaran olah raga, temanya adalah renang. Saya dan teman sekelas yang berkerudung tidak mengikuti kelas renang. Alasan saya sebetulnya sepele, soalnya ga bisa renang. Besok harinya, kena hukuman lah kami, belumpun ditanya apa alasannya, sang guru sudah ngoceh kesana kemari.
"Ini adalah SMU bukan ALIYAH. Kalau mau pake kerudung pindah aja ke sekolah samping, tuh sekolah PERSIS".
Langsung mendidih dada saya, ketika beliau bilang seperti itu. Aduh maaakk sakit atiku.
Saya masuk SMA ketika tahun 1998, saat itupun masih belum marak jilbab.
........
Jumat sore adalah waktu anak kos pulang. Cuuussss langsung ku ambil langkah seribu menuju rumah. Sesampainya di rumah seperti biasanya, perbaikan gizi anak kos, hehehe...
Tapi ko ya perbaikan gizinya sampai hari minggu sore yang biasanya sudah bebenah menuju tempat kos ini masih aja ada dirumah. Kelamaan!!!
Tak lantas mama aneh, "lah, ko belum berangkat juga toh, ndo? "
"Iya, berat kaki mau ninggalin rumah", alasan aja sebetulnya.
"Ada apa???" romannya mama menangkap sesuatu dari hati saya.
"Mau pindah ke pesantren, Ma. Sama kaya Aa dan teteh dulu. Kalau ga boleh jauh, ya, pesantren di babakan ciwaringin juga ga apa-apa, kan banyak disana dan dekat."
Keinginan dari dulu selepas SD mau masuk pesantren memang ga pernah terkabulkan, karena alasan saya adalah anak bungsu dan sering sakit-sakitan, juga supaya ada anak yang dekat dengan orang tua, tidak semuanya jauh.
"Mmmhhh... Sepertinya ada sesuatu yang ga beres nih". Mama mencolek pipiku mencandai.
Akhirnya saya menceritakan detil kejadian apa yang membuatku seperti itu. Plong rasanya setealah menceritakan semuanya.
"Tinggallah di rumah, besok mama akan ke pesantren tetehmu dulu, siapa tahu kamu sekolah di sana betah".
waw, saya kaget sekali. Ga pake hitungan lama saya pindah sekolah.
Saya tahu, mama memindahkan saya bukan hanya karena saya betah atau tidak di SMU itu. Tapi, karena masalah JILBAB.
Dan setelah saya kuliah, saya mendengar cerita dari teman satu SMA dulu yang kebetulan satu fakultas, bahwa kepindahan saya memunculkan jilbaber yang lain. Bahkan ada teman yang lain lagi yang ditegur karena masalah jilbab panjangnya, yang sampai-sampai ia berani akan menyampaikannya ke media masa jika ia tidak diperbolehkan dengan jilbab panjangnya. Hebat berani sekali.
Kini SMU itu tak ayalnya madrasah, hampir semua yang muslimah adalah memakai jilbab. Dan yang non muslim memakai rok di bawah lutut. Indah ketika saya melintas SMU itu.
Yah, itulah proses perjalan panjang saya memakai jilbab. Saya menikmati proses tersebut. Yang jelas kini saya harus terus merasa nyaman dengan jilbab yang saya gunakan sekarang ini. walaupun mungkin bagi segaian orang bukanlah jilbab yang "sempurna".
Ya Allah, ampuni hamba. Semoga istiqomah dalam menutup aurat. Semoga senantiasa dalam genggaman iman, islam, dan ihsan. Amin
[di lain cerita saya akan cerita bagaimana berhijab di negara minoritas muslim]
Jumpa lain waktu
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar